PENGUATAN KETAHANAN KELUARGA DAN PENCAPAIAN SDGS

oleh Mei 13, 2024Wawasan

 

Sebagian besar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan seperti tujuan satu tentang kemiskinan, dua, tiga, empat dan enam membutuhkan keluarga untuk memastikan keberhasilannya, karena tujuan-tujuan tersebut kurang lebih serupa dengan peran keluarga dalam masyarakat.

Kegiatan Family Gathering Filantra yang diikuti oleh karyawan Filantra Bersama keluarga di Citumang, Pangandaran, Senin (25/9). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kelekatan antar karyawan dan keluarga| Foto: Filantra

Keluarga adalah bangunan yang menyusun masyarakat dan bangsa, yang berfungsi sebagai unit utama tempat nilai-nilai, tradisi, dan pengetahuan diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Keluarga sangat penting dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan menciptakan dunia yang lebih adil dan berkelanjutan untuk semua. Hari Keluarga Internasional yang diperingati setiap tanggal 15 Mei memberi kita kesempatan untuk merefleksikan peran penting yang dimainkan keluarga dalam masyarakat serta meningkatkan kesadaran tentang isu-isu ekonomi, sosial, dan demografi yang mereka hadapi.

Tujuh belas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang diadopsi oleh seluruh negara anggota PBB pada tahun 2015 merupakan kerangka kerja komprehensif yang memandu upaya global untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan berkelanjutan bagi semua. Salah satu aspek kunci dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah penekanan pada kesetaraan dan memastikan bahwa tujuan-tujuan ini tercapai untuk semua orang, di mana pun.

Keluarga merupakan inti dari pendekatan yang berfokus pada kesetaraan ini, karena mereka memberikan dasar bagi kesejahteraan dan perkembangan anggota keluarga, khususnya anak. Pembangunan berkelanjutan dimulai dari anak-anak yang tumbuh bebas dari kemiskinan, dengan akses terhadap pendidikan, perawatan kesehatan, dan lingkungan yang memadai. Faktor-faktor ini berkontribusi pada kemampuan mereka untuk menjadi orang dewasa yang produktif yang dapat berkontribusi pada ekonomi, melindungi lingkungan, dan membina kohesi sosial.

Salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan dan kesejahteraan anak adalah perubahan iklim akibat peningkatan polusi dan pencemaran. Perubahan iklim memperburuk kualitas lingkungan dan memunculkan varian penyakit baru yang mengancam jiwa anak-anak. Sementara peristiwa cuaca ekstrem yang diperburuk oleh perubahan iklim, seperti angin topan, kekeringan, dan banjir, sering kali menyebabkan pemindahan paksa dan hilangnya mata pencaharian keluarga dan individu. Peristiwa-peristiwa semacam itu berdampak pada produktivitas pertanian dan akses terhadap air, meningkatkan kelaparan dan kerentanan. Peristiwa-peristiwa tersebut menyebabkan gangguan ekonomi pada industri yang peka terhadap dampak iklim seperti pertanian dan perikanan.

Karenanya pemberdayaan keluarga memberikan manfaat penting dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Sebaliknya proses adaptasi dan mitigas perubahan iklim juga berdampak baik bagi perikehidupan keluarga. Ini membuat memberdayakan keluarga melalui pendidikan, mengubah kebiasaan konsumsi, dan advokasi sangat penting untuk aksi iklim yang bermakna dan efektif.  Menanamkan kebiasaan berkelanjutan dan kesadaran iklim dalam keluarga sejak dini dapat membangun masa depan yang lebih baik bagi manusia dan planet kita. Keluarga sebagai konsumen dan pendukung dapat mendorong transisi menuju ekonomi sirkular, yang mengarah pada model ekonomi berkelanjutan yang didasarkan pada minimalisasi limbah dan regenerasi sumber daya alam.

Posyandu dan Dukungan bagi Keluarga

Upaya penjangkauan dan penguatan keluarga salah satunya dilakukan melalui Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat   dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar, utamanya untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.


Para Ibu Anggota Posyandu Centini mendapatkan bantuan susu ibu hamil setelah pemeriksaan rutin di Posyandu Centini Kab.Gresik, Kamis (7/3). Pembagian susu ini bermanfaat untuk memberikan nutrisi ibu dan anak | Foto: Filantra

Intervensi melalui posyandu ini relatif efektif dalam menjangkau isu kesehatan di masyarakat dan dapat diperluas aktivitasnya, tidak semata-mata di bidang pelayanan kesehatan. Bekerjasama dengan PT Pertamina (Persero) Training and Consulting, Filantra mengembangkan Posyandu Centini (Cegah Stunting Sejak Dini) di Gresik dan Posyandu Berdaya di Jakarta Selatan sepanjang bulan Oktober 2023 – Maret 2024 dengan fokus pencegahan kasus stunting. Melalui posyandu ini dilakukan kegiatan Gerakan Anak Bergizi, Duta Balita Sehat, Gerakan Rumah Sehat, serta pemberian makanan tambahan.

Fokus bantuan tidak hanya pada promosi kesehatan, tetapi juga pelatihan budidaya sayuran melalui aquaponik dan pembibitan ikan di tingkat komunitas sampai pelatihan pengolahan menu sehat. Melalui rangkaian kegiatan ini diharapkan terbentuk ekosistem keluarga yang tangguh dan dapat berkontribusi pada penciptaan masyarakat yang sejahtera seperti penghapusan kemiskinan (SDGs No 1), mengakhiri kelaparan (SDGs No 2), kesejahteraan dan kesehatan (SDGs No 3), pendidikan yang berkualitas (SDGs No 4), serta sanitasi dan air bersih (SDGs No 6).

Data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayan menyebutkan jumlah Posyandu yang tersebar di seluruh Indonesia kini tercatat telah mencapai 338.881 dengan kader aktif berjumlah 1.059.466. Angka ini bertambah signifikan sejak Posyandu dirancang pertama kali tahun 1986. Penguatan posyandu akan meningkatkan ketahanan keluarga dan membantu percepatan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

 

Ditulis oleh Salman Nursiwan