Mendukung Masa Lansia Berdaya dan Sejahtera

oleh Mei 27, 2024Wawasan

Salah satu Volunteer dan Lansia sedang menikmati salad buah dalam kegiatan membuat bento cake Bersama Lansia voluntrip Kitabisa x Filantra di PSTW Budi Pertiwi, Sabtu (18/5). Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan sosial bagi lanjut usia di Panti.

Masa lansia merupakan fase kehidupan yang memerlukan perhatian khusus, terutama dalam aspek kesehatan, kesejahteraan sosial, dan dukungan keluarga. Saat ini Indonesia telah memasuki periode penuaan penduduk (ageing population). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk lansia di Indonesia mencapai 11,75% pada 2023 dan Kementerian Kesehatan memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia yang memasuki usia lanjut diperkirakan 48,2 juta jiwa atau sekitar 15,77 persen dari total keseluruhan populasi Indonesia pada 2035.

Di Indonesia, populasi lansia terus meningkat seiring dengan peningkatan angka harapan hidup dan penurunan angka kelahiran. Hal ini selaras dengan angka harapan hidup Indonesia yang meningkat tiap tahun. Menurut BPS, pada 2021 angka harapan hidup masyarakat Indonesia untuk laki-laki 69,67 tahun dan perempuan 73,55 tahun.

Dalam struktur kependudukan, warga lansia merupakan kelompok usia ”beban” yang berarti memiliki ketergantungan terhadap kelompok usia produktif. Jumlahnya yang kian banyak, secara tak langsung, memiliki dampak sosial dan ekonomi, baik bagi individu, keluarga, maupun lingkungan sosial. Dari hasil proyeksi penduduk didapatkan rasio ketergantungan lansia sebesar 17,08. Artinya, setiap 100 orang penduduk usia produktif (umur 15-59 tahun) menanggung sekitar 17 orang lansia.

Secara global, setiap negara di dunia telah mengalami peningkatan angka harapan hidup yang signifikan dan pada tahun 2050 jumlah tersebut diproyeksikan melonjak hampir 22 persen. Menariknya, sebagian besar proyeksi pertumbuhan penduduk lanjut usia diperkirakan terjadi di negara-negara berkembang (UNFPA 2016).

Salah satu isu utama yang dihadapi lansia di Indonesia adalah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai. Keterbatasan ini sering kali disebabkan oleh kurangnya fasilitas kesehatan yang tersebar merata serta rendahnya kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya kesehatan di usia lanjut. Menurut World Health Organization (2012), beban kesehatan lansia di berbagai negara berpenghasilan rendah dan menengah berasal dari berbagai penyakit seperti jantung, stroke, gangguan penglihatan, dan gangguan pendengaran. Selain itu, beban penyakit seperti diabetes dan hipertensi juga semakin meningkat di kalangan lansia yang membutuhkan penanganan medis yang berkelanjutan.

Dari sisi kesejahteraan sosial, banyak lansia di Indonesia yang masih tergantung pada dukungan keluarga karena sistem jaminan sosial yang belum sepenuhnya mencakup seluruh lapisan masyarakat. Padahal, dalam beberapa kasus, keluarga sendiri sering kali mengalami keterbatasan ekonomi sehingga tidak mampu memberikan dukungan optimal kepada anggota keluarga yang sudah lanjut usia. Hal ini diperparah dengan perubahan struktur keluarga dan migrasi anak-anak muda ke kota, yang mengakibatkan lansia sering kali tinggal sendirian tanpa pendampingan yang memadai.

Meskipun pemerintah telah mengambil berbagai langkah untuk mengatasi masalah ini, seperti dengan memperkenalkan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan bantuan sosial untuk lansia, tantangan besar masih ada dalam hal implementasi dan pemantauan di lapangan. Pemerintah perlu terus meningkatkan kualitas dan jangkauan layanan kesehatan, serta memperkuat sistem jaminan sosial agar lebih inklusif dan berkelanjutan.

Kondisi lansia di Indonesia mencerminkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat kebijakan yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup mereka. Selain intervensi pemerintah, partisipasi aktif dari masyarakat dan korporasi, sangat dibutuhkan untuk membangun lingkungan yang ramah lansia.

Meningkatkan Kesejahteraan Lansia Melalui Posbindu

Salah satu intervensi dalam peningkatan kualitas hidup lansia adalah melalui pengembangan Pos Binaan Terpadu (Posbindu). Posbindu adalah kegiatan pemantauan dan deteksi dini faktor resiko penyakit tidak menular (PTM) terintegrasi  seperti gangguan jantung dan pembuluh darah, diabetes, penyakit paru obstruktif akut dan kanker serta gangguan akibat kecelakaan dan tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang dikelola oleh masyarakat.

Posbindu memainkan peran penting dalam peningkatan kesejahteraan lansia di Indonesia karena tidak hanya menyediakan layanan kesehatan, tetapi juga menjembatani program pemerintah dan kegiatan masyarakat. Ini penting karena tantangan yang dihadapi lansia, terutama di perkotaan, mencakup akses terhadap layanan kesehatan, dukungan sosial, dan pemenuhan kebutuhan dasar.

Kegiatan Posbindu sendiri umumnya mencakup upaya promotif dan preventif untuk mendeteksi dan pengendalian dini keberadaan faktor resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) secara terpadu melalui pemantauan faktor risiko bersama PTM secara rutin dan periodik, konseling faktor resiko PTM tentang diet, aktifitas fisi, merokok, stress dan sebagainya, penyuluhan atau dialog interaktif sesuai masalah terbanyak, kegiatan fisik bersama seperti olah raga bersama, kerja bakti dan semacamnya, serta menjadi tempat rujukan kasus faktor risiko sesuai kriteria klinis.

Seorang lansia sedang diperiksa oleh tenaga Kesehatan dalam kegiatan cek Kesehatan rutin yang diselenggarakan di Posyandu Petojo Selatan, Jakarta Utara, Jum’at (15/12). Posyandu Lansia diinisiasi oleh Filantra dan Pertamina Training & Consultant (PTC) sebagai upaya peningkatakan Kesehatan bagi lansia.

Peran posbindu sebagai tempat layanan kesejahteraan lansia di antaranya ditunjukan melalui Pos Berdaya Pertamina Training & Consulting (PTC) Petojo yang merupakan inisiatif kolaboratif yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga di perkotaan, khususnya lansia, melalui berbagai program kesehatan dan pelatihan keterampilan. Bersama Filantra, PTC mengembangkan Posbindu Berdaya Petojo di Posyandu Cempaka 07, Kelurahan Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, sepanjang Januari 2022 hingga Desember 2023.

Sebagai upaya peningkatan kesehatan masyarakat, Posbindu Berdaya Petojo menempatkan lansia sebagai salah satu fokus utama. Data menunjukkan bahwa terdapat 74 lansia yang menjadi penerima manfaat dari program ini. Melalui kegiatan seperti Posyandu Lansia, PMT (Pemberian Makanan Tambahan) Lansia, senam lansia, dan cek metabolik lansia, program ini berupaya untuk menjaga kesehatan fisik dan mental para lansia.

Posbindu Berdaya PTC Petojo adalah contoh nyata bagaimana intervensi yang terencana dan terstruktur dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kesejahteraan lansia. Melalui sinergi antara pemerintah, perusahaan swasta, dan organisasi non-profit, program ini berhasil menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan kemandirian lansia, sekaligus mempromosikan keberlanjutan di masyarakat perkotaan.

 

 

Ditulis oleh Eka Editor Salman N